Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
HomeAssalamu'alaikum, ^^Oct 21, 2009
Selamat Datang!!!
terimakasih sudah berkunjung..
semoga bermanfaat dan bs saling bertukar pikiran.. :)

NoteJan 27, '12 6:07 AM
for everyone












Blog EntryOct 12, '11 12:32 AM
for everyone

well, tulisan ini sebetulnya sudah lama saya buat.. ketika saya utak-atik, tulisan saya lucu juga.. tulisan ini mengingatkan saya pada skripsi, si tulisan 6 sks yang telah mengantarkan saya meraih nama yang lebih panjang.. well, enjoy your thesis sister and brother, :)

BREAD. LOVE, and DREAM  vs SKRIPSI

Pernah melihat drama seri Korea berjudul Bread, Love, and Dream? jika belum, saya rasa drama ini bisa jadi salah satu tontonan menarik diantara drama Korea yang kebanyakan dibumbui kisah cinta.. saya, tentu saja, tidak akan menceritakannya disini... saya hanya tertarik, pada ide drama ini, dimana Kim Tak Gu, berjuang untuk membuat roti, ada roti yang paling mnegenyangkan di dunia, roti yang paling menarik di dunia, dan yang terakhir  "roti yang paling membahagiakan di seluruh dunia.."..


Saya, sangat terkesan dengan ide roti ketiga.. !!

hmmm, seperti apa ya? jelas, tidak hanya enak di mulut, tapi roti yang membahagiakan diseluruh dunia adalah roti yang dengannya bisa membahagiakan orang lain, mengisi perut-perut yang kosong, dan tentu bergizi...

teringat pada roti Kim Tak Gu, saya merasa saat ini berada di posisi membuat roti.. jika Tak Gu membuat roti yang sebeanrnya, saya sedang membuat adonan tulisan saya, bukan roti yang mengenyangkan perut dan lezat dirasa, tapi sebuah tulisan yang dengannya bisa membahagiakan orang-orang yang menunggu saya meraih gelar sarjana..  apalagi jika bukan skripsi..

 

baiklah, skirpsi di satu sisi sebetulnya hanyalah salah satu prasyarat agar kita bisa lulus.. pdahal, jika dibandingkan dengan proses yang saya lalui selama 4 tahun belajatr di psikologi, skripsi tentu sebetulnya bukan apa-apa.. pun, banyak yang sanggup menyelesaikannya dalam waktu yang cukup singkat, yaitu 3 bulan.. tapi, welll, kebanyakan rakyat Indonesia, termasuk keluarga saya, adalah orang-orang yang mencemaskan tentang skripsi... lucu memang... :D

tentu, kita tak boleh menyederhanakan begitu saja soal skripsi ini.. mari kita coba gali hikmah terindah di balik skripsi.. yang paling membahagiakan tentu bukan hanya sekedar meraih gelar sarjana yang dengannya mmebuat orang lain bahagia, tapi di balik itu, saya yakin hadiah terbesar adalah janjiNya yang akan meningkatkan derajat kita.. ya, Allah menjanjikan pada orang yang berilmu derajat yang lebih tinggi dan menaikkan pahalanya.. adalah sebuah proses yang dilihat, bukan hasilnya.. pun ketika kita telah bergelar sarjana, kita tak akan menjadi apa2 ketika kita berdiam diri, pun tak akan kita bawa ke akhirat nanti... biarlah, segala proses ini menjadi amal shalih kita dalam menimba ilmu yang dengannya Allah kan menaikkan derajat kita. Amin




Blog EntrySep 26, '11 1:06 PM
for everyone

Perjalanan Kata Menuju Langit

By : Anis Matta

Doa adalah kata kata yang baik. Dan ketika kita mengucapkanya, sesungguhnya kita telah melepaskannya dari mulut kita, agar ia berjalan menuju langit. Jika kata itu memiliki wacana penyangga yang kuat, ia akan segera melampaui cakrawala, menembus angkasa dan mencapai langit. Dan wacana penyangga itu adalah amal shaleh. Dengarlah firman Allah swt,

"Kepada-Nyalah kata yang baik itu menaik dan amal shaleh-lah yang akan (terus) mengangkatnya." (QS. Fathir : 10)

Itulah sebabnya Rasulullah saw menganjurkan kita beramal shaleh sebelum berdoa. Misalnya bersedekah dan melakukan kebaikan-kebaikan lainnya.

Sujud Sang Jiwa

Kata dalam doa adalah untaian surat dari sang jiwa kepada Tuhannya. Maka jika engkau ingin surat itu sampai kepada-Nya, tulislah ia saat jiwamu benar-benar sedang bersujud pada-Nya.

"Ya Allah,  jika pasukan ini binasa, tak kan pernah ada lagi di bumi ini yang akan menyembah-Mu, selamanya"

Rasulullah saw terus melantunkan doa itu, sampai selendangnya terjatuh, sampai Abu Bakar ra datang meng-hampirinya dan mengatakan, "Cukuplah, Ya Rasulullah, Allah pasti akan menolongmu."

Tidakkah engkau lihat bagaimana Rasul yang mulia itu merengek-rengek di depan Tuhannya, Tuhan yang mengutusnya menyampaikan risalah ini dan berjanji akan menolongnya ??? Bukankah yang ia ucapkan itu telah melampaui batas permohonan menjadi sebuah tuntutan ??? Siapakah yang dapat menjamin bahwa tak kan ada lagi yang menyembah Allah jika pasukan itu binasa ???

Apakah Allah tidak sanggup menciptakan makhluk lain yang akan menyembah-Nya ?? Tidak !! Tidak !!!

Tapi begitulah kejujuran dalam berharap melahirkan kalimat yang kuat, penuh keyakinan, yang hamper-hampir tak dapat di bedakan dari tuntutan. Maka dengarlah jawaban bagi jiwa yang bersujud itu. Dan kemudian Allah swt mengabulkan doanya dengan mengutus Jibril untuk mengatakan kepadanya:

"Ambillah segenggam tanah, lalu taburkanlah ke wajah mereka." Lalu beliaupun melakukannya, dan tak seorangpun dari pasukan musyrik melainkan tanah itu pasti mengenai matanya, lalu lubang hidungnya dan mulutnya dari gengggaman tanah itu, maka mereka pun lari tunggang langgang." (HR. Muslim, Tirmidzi dan Ahmadi)

Dan Raga pun Menyertainya

Apa yang dilakukan oleh sang jiwa saat ia bersujud, haruslah terlihat pula dalam wacana raga kita. Demikianlah Rasulullah saw menganjurkan kita agar mengekspresikan sujud sang jiwa itu dalam gerak raga kita.

* Maka ia menganjurkan kita bersuci sebelum berdoa * Ia juga menganjurkan kita menghadap ke kiblat saat berdoa * Akhirnya, ia juga menganjurkan mengangkat kedua tangan kita saat berdoa.

Sebab jiwa yang bersujud itu haruslah suci, maka raga yang menyertainya sebaiknya juga suci. Sebab walaupun Allah swt ada di semua penjuru alam, namun Ia jugalah yang menetapkan Ka'bah sebagai kiblat kaum muslimin. Sedang mengangkat kedua tangan merupakan ekspresi paling sempurna dari permohonan dan rasa butuh, dan bahwa;

"Allah itu Maha Pemalu lagi Maha Mulia, dan merasa malu menolak, ketika seseorang mengangkat tangannya ke langit dan mengembalikannya dalam keadaan kosong dan kecewa" (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Santun Dalam Berharap

Jika engkau telah melakukan semua itu, maka rangkailah kata-katamu dalam doa dengan susunan yang baik, sopan dan indah. Karena engkau sedang meminta, maka mulailah permohonan itu dengan pujian-pujian yang baik kepada siapa engkau memohon. Lalu haturkanlah selawat serta salam kepada rasulullah saw, sebab

"Itu akan dibalas sepuluh selawat dari Allah " (HR. Muslim)

Sebab, " Rasulullah saw pernah mendengar seorang laki laki berdoa tanpa memuji Allah dan menghaturkan selawat baginya, maka beliaupun mengatakan "Orang ini terlalu tergesa-gesa" (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Kemudian bertaubatlah dan memohon ampunlah (istigfar) atas dosa-dosa yang telah engkau lakukan. Sebab dosa-dosa itu akan menjadi hijab yang menghalangi sampainya doa ke langit. Dan hanya taubat dan istigfar itu yang akan mengangkat hijab itu. Nama Allah yang maknanya sesuai dengan makna permohonanmu. Sebab,

"Rasulullah saw penah mendengar seorang laki laki berdoa dengan mengucapkan: "Ya Allah, Sesungguhnya aku memohon pada-Mu dengan kesaksianku bahwa Engkau adalah Allah, Tiada Tuhan selalin Engkau, Yang Maha Esa, Tempat bergantung, Yang tiada beranak dan tidak di peranakkan, Yang tiada sekutu bagi-Nya."

Maka Rasulullah saw pun bersabda;

"Sungguh ia telah memohon kepada Allah dengan sebuah nama yang jika Ia di mintai dengan nama itu, Ia pasti memberi, dan jika Ia dipanggil dengan nama itu, Ia pasti menjawab." (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban).

Lalu tutuplah doa itu dengan penuh keyakinan akan terkabul, sembari menghaturkan pujian-pujian kepada Allah swt.

"Dan akhir dari doa mereka, adalah bahwa; segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam" (QS. Yunus : 10)

Memilih Waktu, Tempat dan Momentum yang Tepat

Diantara ajaran Rasulullah saw tentang doa adalah perlunya memperhatikan waktu, tempat dan momentm tertentu, dimana Allah berkenan menerima dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya dan tidak menolaknya. Adapun waktu waktu itu adalah ;

* sepertiga terakhir dari waktu malam

* ketika adzan sedang berkumandang

* antara adzan dan iqomat

* setelah shalat fardhu

* ketika imam naik ke mimbar di waktu Jum'at sampai selesai selesai shalat

* dan saat-saat terakhir setelah Ashar dari hari Jum'at itu.

Adapun tempat-tempat tertentu itu,adalah ;

* ketika melihat Ka'bah

* ketika melihat masjid Rasulullah saw

* ketika melakukan Thawaf di Baitullah

* ketika berada di sisi multazam

* ketika berada di belakang maqam Ibrahim

* ketika berada di sisi sumur Zamzam

* ketika berada di atas bukit Shofa dan Marwah

* ketika bearada di Arafah, Mudzalifah, Mina

* ketika berada di sisi Jamarat (tempat melontar jumrah) yang tiga

* ketika berada di masjid

Adapun momentum yang tepat itu adalah;

* ketika turun hujan

* ketika menghadapi barisan musuh dalam perang

* ketika sujud dalam shalat

* ketika sedang terzalimi

* ketika sedang berada dalam perjalanan

* ketika sedang berbuka puasa

 

 

Hijab Antara Langit dan Bumi

Boleh jadi engkau telah memenuhi semua syarat doa diatas, tapi engkau melihat bahwa tak ada tanda-tanda doamu terkabul. Maka jika engkau menyaksikan situasi itu, segeralah menengok kedalam dirimu apakah ada hijab yang menghalangi doamu sampai ke langit :

Dosa

Itulah salah satu hijab doa. Sebab dosa memang harus dibalas dengan hukuman, dan hukumannya adalah penolakan. Sebutlah misalnya, mengkomsumsi makanan atau minuman atau pakain yang haram. Itulah yang disebut oleh Rasulullah saw dalam sabdanya;

yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut masai, wajahnya berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit, sembari berseru; "Ya Tuhan .. Ya Tuhan .." Tapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan di beri makan yang haram, bagaimana mungkin doanya akan terkabul ?" (HR. Muslim dan Abu Huraerah)

Berdoa untuk sebuah dosa

Ini juga merupakan hijab yang menghalangi doa sampai ke langit.

Terlalu tergesa gesa mengharap jawaban

Ini juga merupakan faktor yang menyebabkan doa tertolak. Misalnya ketika engkau mengatakan; "Aku telah berdoa, tapi tidak di kabulkan. Jadi aku berhenti saja berdoa. Percuma"

Memutuskan tali silaturrahim

Inilah faktor lain yang juga menghalangi doa sampai ke langit.

Tiga yang terakhir ini kita temukan dalam sabda Rasulullah saw ;

"Doa seorang hamba selalu akan terkabul, selama ia tidak berdoa untuk sebuah dosa, memutuskan tali silaturrahim, dan tidak tergesa gesa." (HR Muslim dan Abu Hurairah)

Kebaikan Yang Tertunda

Tapi jika engkau telah melakukan semua syarat itu, dan merasa tidak melakukan dosa-dosa yang akan menghalangi doamu sampai ke langit, bahkan juga senantiasa bertaubat dan memohon ampunan-Nya, namun doa yang engkau sampaikan kepada Allah swt belum juga memperlihatkan hasil, itulah saatnya engkau harus melakuan nasihat Ibnul Jauhari berikut ini:

"Teruslah berdoa, dan jangan pernah bosan melakukannya. Sebab mungkin penundaan jawaban lebih baik bagimu. Atau bahkan penerimaan itu sama sekali bukan maslahat bagimu. Tapi engkau pasti di beri pahala. Dan doamu dikabulkan dengan cara yang lebih bermanfaat bagimu. Dan boleh jadi diantara manfaat itu bahwa permintaanmu tidak dikabulkan, tapi diganti dengan sesuatu yang lain.

Dan jika Iblis datang padamu lalu berkata; "Berapa banyak sudah engkau berdoa, namun tak juga ada yang terkabul" Maka katakanlah padanya; "Aku justru beribadah dengan doa itu. Dan aku percaya bahwa jawaban doaku itu jelas ada. Tapi mungkin ia ditunda untuk maslahat yang lain, dan jawaban itu tidak juga kunjung datang, yang pasti aku telah beribadah dan mendapat pahala"

Maka janganlah pernah memohon sesuatu tanpa menyertainya dengan permintaan bahwa jawaban itu baik bagimu. Sebab boleh jadi ada bagian dari dunia yang engkau minta, yang jawabannya justru akan menghancurkanmu. Dan jika untuk urusan dunia engkau di perintahkan bermusyawarah dan meminta pendapat sahabatmu dalam berbagai masalah yang engkau tidak sangggup menyelesaikannya, dan melihat bahwa apa yang terjadi padamu itu tidak bermanfaat, maka mengapa engkau tidak menanyakan Tuhanmu tentang apakah yang engkau minta itu bermanfaat bagimu atau tidak ? bukankah Tuhanmu yang Maha mengetahui semua maslahat? Demikianlah istikharah itu merupakan bagian dari cara bermusyawarah yang cerdas"

Seni Menggunakan Pedang

Demikianlah engkau melihat bahwa seni berdoa itu mirip dengan seni menggunakan pedang. Pedang yang tajam itu jelas penting. Tapi yang jauh lebih penting adalah orang yang memegang pedang itu. Maka pedang yang tajam, yang tergenggam kuat dalam tangan dingin seorang pemberani, yang digunakan pada waktu dan sasaran yang tepat; itulah yang akan mematikan musuh.

Tapi jika ada salah satu dari unsur itu yang tidak efektif, maka selamanya dia itu tak kan menghasilkan pengaruh apa-apa. Sekarang apakah engkau menguasai seni menggunakan pedang yang bernama doa ???

 




Blog EntryJun 15, '11 9:43 PM
for everyone
saya hampir saja tak berhenti menggeleng-gelengkan kepala dan beucap istighfar banyak-banyak ketika membaca koran pagi itu. jika yang diberitakan adalah soal korupsi, itu soal biasa (masya Allah), sampai-sampai saya sudah kebal dan lebih memilih beralih ke soal lain. tapi, kasus ini agak  beda..... mungkin kalau saya harus ikut gaya-gaya di sinetron, saya akan ikut berteriak "dimana harkat dan martabat bangsa ini???"

hyah, ini soal moral. seorang anak belia yang terhitung masih dini diminta mencontek oleh gurunya agar lulus ujian nasional.. (what???)... dosen saya sampai bilang, " lah baru mau masuk smp aja diminta nyontek, kan udah ada wajib belajar 9 taun, kenapa harus takut sih anak didiknya nggak lulus atau nilainya jelek?? kan nggak terllau bermasalah kalau nilainya g terlalu bagus, seharusnya sudah ada jaminan sekolah wajib belajar 9 tahun" 

anak kecil yang seharusnya diajarkan nilai-nilai kejujuran, justru diberikan nilai-nilai yang sebaliknya. adalah sebuah dilema besar tentunya ketika apa yang diajarkan anak di rumah bertentangan dengan apa yang diajarkan di sekolah. pun, anak-anak pada tahap ini menurut Erikson sedang dalam tahap mengembangkan konsep diri.. nah, bagaimana kalau konsep diri yang tercipta justru konsep diri yang negatif pada dirinya? anak-anak pada tahap ini menurut Erikson tentunya sudah masuk ke tahap adolescence, Pada krisis ini, menurut Erikson, remaja dihadapkan pada berbagai pilihan akan jati dirinya yang sesungguhnya tentang bagaimana ia berperan dalam masyarakat. remaja juga sangat membutuhkan dukungan sosial, terutama dari peer group. melihat kasus ini ironis ketika sang anak dan keluarga mencoba berkata jujur dan mengatakan yang sebenarnya tetapi justru tidak mendapat dukungan dari lingkungan sekitarnya.. innalillah.. 

lagi, ini hanya soal ujian, soal dunia kawan, yang hanya akan terlewat begitu kita menyelsaikannya. akankah kita mengorbankan kejujuran untuk hal ini? bagaimana Allah akan memberikan keberkahan pada sesuatu yang tidak baik? 

anak-anak, bagaimanapun juga, adalah generasi yang akan mengubah dunia di tahun-tahun mendatang. dan sudah seharusnya anak-anak tidak hanya diajarkan untuk menjadi cerdas secara intelegensi, tapi juga cerdas secara emosional dan sosial.. 

katakan yang benar meski pahit...  itu yang dikatakan Rasulullah.. dan seorang anak, dalam kasus di Indonesia ini, sudah melakukannya.. sayang kejujurannya justru dianggap hal yang salah.. ckckck...


ahh, seandaianya semua orang memiliki kejujuran seperti Abu Dzar, sahabat Rasulullah yang dikenal memiliki lisan paling lurus, dan tutur paling benar maka kita tak perlu berprasangka yang bukan-bukan pada orang lain, dan kita hanya butuh satu kata "percaya".. 




Pages:12345